Babel  

Algafry Targetkan 200 Inovasi Daerah, Bangka Tengah Incar Kabupaten Terinovatif

Koba, DeteksiPos — Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah mulai memetakan arah pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi hingga 2029. Langkah itu ditandai dengan Rapat Koordinasi Penyusunan Rencana Induk dan Peta Jalan Pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Daerah (RIPJPID) 2025–2029 serta Penguatan Inovasi Daerah 2026, Selasa (19/5/2026).

Rakor yang digelar di Ruang Rapat Besar Sekretariat Daerah Bangka Tengah tersebut dibuka langsung Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman, sekaligus diwarnai penandatanganan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan.

Algafry menegaskan, penyusunan RIPJPID bukan sekadar memenuhi regulasi, tetapi menjadi arah kebijakan pembangunan daerah berbasis riset dan teknologi.

“Peta jalan ini menjadi haluan kita dalam menyusun langkah pembangunan agar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Bangka Tengah lebih jelas, terukur, dan tepat sasaran,” kata Algafry.

Menurut dia, komitmen Bangka Tengah dalam membangun budaya inovasi terus menunjukkan hasil positif. Indeks Inovasi Daerah (IID) Bangka Tengah mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2021, Bangka Tengah mencatat skor 54,39 dengan predikat inovatif melalui 17 inovasi. Angka itu meningkat menjadi 66,54 pada 2024 dengan predikat sangat inovatif, lalu kembali naik menjadi 68,10 pada 2025 dengan total 79 inovasi.

Melihat tren tersebut, Pemkab Bangka Tengah memasang target besar pada 2026 dengan melaporkan 200 inovasi daerah untuk bersaing pada ajang Innovative Government Award (IGA).

“Kita punya mimpi meraih predikat kabupaten terinovatif di Indonesia. IGA Award menjadi motivasi bahwa pemerintah daerah siap bekerja dan memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.

Algafry juga memberi penegasan kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar inovasi menjadi budaya kerja, bukan sekadar program tahunan.

“Setiap OPD wajib punya inovasi. Itu menjadi ukuran apakah mereka memahami tugas dan fungsinya atau tidak,” tegasnya.

Ia menambahkan, inovasi yang dikembangkan tidak hanya berkaitan dengan digitalisasi pelayanan publik, tetapi juga menyentuh sektor riil yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Salah satu contoh yang didorong, kata
Algafry, yakni inovasi di sektor pertanian melalui pengembangan bawang merah agar kebutuhan benih dapat dipenuhi dari daerah sendiri tanpa bergantung pada pasokan luar.

“Itu juga inovasi, bagaimana daerah bisa mandiri dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *