Babel  

Proyek Gedung Rp 8,8 Miliar UBB Terancam Molor, Progres Baru 70 Persen Padahal Kontrak Hampir Berakhir

Proyek Pembangunan gedung Balai Utama De Universitaria (Foto : Yn)

Bangka, deteksipos.com – Pembangunan gedung Balai Utama De Universitaria Universitas Bangka Belitung (UBB) di Kampus Terpadu UBB, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, terancam molor dari target penyelesaian.

Proyek strategis kampus yang didanai APBN melalui skema PNBP/BLU UBB Tahun Anggaran 2025 itu mengantongi pagu anggaran sebesar Rp 8,8 miliar.

Namun hingga pertengahan Desember 2025, progres fisik pembangunan dilaporkan baru mencapai sekitar 70 persen. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran publik karena sisa waktu pelaksanaan proyek hanya tinggal 13 hari kerja.

Padahal, masa pelaksanaan proyek tergolong panjang. Berdasarkan dokumen kontrak, pekerjaan dimulai sejak 7 Juli 2025 dengan durasi 178 hari kerja dan dijadwalkan berakhir pada 30 Desember 2025.

Dengan sisa pekerjaan sekitar 30 persen dan waktu yang kian menipis, penyelesaian proyek tepat waktu dinilai berada di ujung tanduk. Risiko keterlambatan pun dinilai semakin nyata.

Proyek ini dikerjakan oleh kontraktor pelaksana CV Simpul Prima Gemilang dengan pengawasan dari konsultan PT Astradipati Duta Harindo. Pelaksanaan proyek berada di bawah tanggung jawab Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Universitas Bangka Belitung.

Edi, pemborong bangunan di Pangkalpinang, menilai lambannya progres proyek ini mencerminkan persoalan serius pada tahap perencanaan dan pengendalian pelaksanaan.

“Keterlambatan progres ini saya duga karena suplai material yang tidak siap sejak awal, ditambah pengawasan yang tidak optimal dari pihak pemberi kerja,” kata Paisal kepada deteksipos.com, Selasa (16/12).

Menurut dia, proyek bernilai miliaran rupiah seharusnya memiliki manajemen logistik dan pengawasan lapangan yang ketat. Tanpa itu, target waktu hanya akan menjadi formalitas di atas kertas.

“Kalau material aman dan pengawasan jalan, mustahil progres tertinggal sejauh ini. Apalagi waktu pelaksanaannya sebenarnya cukup longgar,” ujarnya.

Sorotan juga datang dari masyarakat Bangka Belitung. Seorang warga Pangkalpinang, Andi, menyebut keterlambatan proyek pemerintah sudah menjadi pola berulang yang jarang dievaluasi secara terbuka.

“Setiap akhir tahun selalu ada proyek dikejar-kejar waktu. Publik berhak tahu, apakah ini murni kendala teknis atau ada masalah manajerial,” kata Andi.

Warga lainnya, Paisal, menilai proyek ini tidak bisa dipandang sekadar bangunan fisik. Ia menekankan dampak keterlambatan terhadap aktivitas akademik mahasiswa.

“Gedung itu dibangun untuk kepentingan pendidikan. Kalau molor, yang dirugikan bukan hanya kampus, tapi juga mahasiswa,” ujarnya.

Hingga kini, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek Balai Utama De Universitaria UBB, Rahmad, belum memberikan keterangan resmi terkait capaian progres dan langkah antisipasi keterlambatan.

Upaya konfirmasi telah dilakukan guna meminta penjelasan mengenai evaluasi pelaksanaan proyek, potensi denda keterlambatan, maupun kemungkinan perpanjangan waktu pekerjaan, upaya konfirmasi masih dilakukan.

Namun sampai berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan dari yang bersangkutan maupun pernyataan resmi dari pihak Universitas Bangka Belitung.

Potensi molornya proyek ini menjadi ujian serius bagi tata kelola pembangunan di lingkungan perguruan tinggi negeri, khususnya dalam memastikan setiap rupiah uang negara benar-benar dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel.*

Penulis: Surya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *