Babel  

Eddy Iskandar Soroti Ketimpangan Harga Sawit Bangka dan Belitung

PANGKALPINANG, DeteksiPos – Penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Pulau Bangka menuai sorotan dari DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Wakil Ketua DPRD Babel dari Fraksi Golkar, Eddy Iskandar, menilai kondisi ini perlu segera ditangani karena adanya disparitas harga yang cukup jauh dibandingkan Pulau Belitung.

Ia menegaskan, pihaknya akan menindaklanjuti keluhan petani dengan mendorong pemerintah daerah untuk mengevaluasi mekanisme penetapan harga sawit agar lebih berpihak kepada petani.

“DPRD akan mendorong pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap mekanisme penetapan harga sawit agar lebih berpihak kepada petani,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Selain itu, Eddy juga meminta adanya pengawasan ketat terhadap perusahaan maupun pabrik kelapa sawit agar harga yang diterima petani tetap mengacu pada ketentuan yang telah disepakati.

“Untuk pabrik kelapa sawit kami minta ikut harga acuan yang sudah disepakati bersama dengan dinas pertanian,” tegasnya.

Sebelumnya, keluhan soal anjloknya harga sawit disampaikan sejumlah petani di berbagai wilayah di Pulau Bangka. Mereka mengaku harga TBS terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.

Muksem, petani asal Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, mengungkapkan selisih harga TBS antara Bangka dan Belitung bisa mencapai Rp1.000 per kilogram.

“Harga antara di Bangka dan Belitung itu begitu jauh berbeda, menyentuh angka 1.000 rupiah,” kata Muksem kepada wartawan.

Keluhan serupa juga disampaikan petani dari Kabupaten Bangka, Bangka Selatan hingga Bangka Barat. Mereka menilai perbedaan harga dalam satu provinsi tersebut tidak wajar dan semakin menekan kondisi ekonomi petani kecil.

Andi, petani sawit asal Sungailiat, mempertanyakan peran pemerintah daerah dalam menyikapi persoalan tersebut.

“Di mana peran pemerintah Bangka Belitung. Kenapa ketimpangan harga antara Bangka dan Belitung sampai begitu jauh, padahal satu provinsi,” katanya.

Ia juga mengaku hingga kini belum ada langkah konkret untuk melindungi petani kecil yang hanya memiliki lahan terbatas dan bergantung penuh pada hasil sawit.

“Mohon kiranya pemerintah bisa bantu para petani kecil yang hanya punya 2–3 hektar, karena kami hanya bergantung dengan sawit. Timah sudah susah, tidak ada harapan lain,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan petani di Kabupaten Bangka Barat. Warga Desa Neknang menyebut sebagian besar masyarakat setempat menggantungkan hidup dari perkebunan sawit, sehingga penurunan harga sangat berdampak pada ekonomi keluarga.

“Kami ini tak ada kerja lain selain di kebun, jadi yang kami harapkan dengan pemerintah ya bantu lah perjuangkan harga ini. Kami dengar juga Belitung harganya tinggi,” ungkapnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *