Rikky Fermana Ketua PJS dan Penasehat SMSI Babel (Foto : dok.deteksipos.com)
Opini
Oleh Rikky Fermana *
Pangkalpinang, Deteksi Pos – Diversifikasi ekonomi menjadi langkah krusial bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang menghadapi tantangan harga timah yang terus merosot. Meskipun timah telah lama menjadi tulang punggung ekonomi daerah ini, fluktuasi harga timah dari London Metal Exchange (LME) menciptakan tekanan besar pada perekonomian yang sangat bergantung pada ekspor timah.
Harga rata-rata timah dunia turun signifikan dari US$31.382 pada 2022 menjadi US$25.972 pada 2023, menimbulkan pertanyaan kritis mengenai keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Babel dalam ketergantungan yang begitu besar pada komoditas timah.
Menyikapi tren penurunan harga timah, Devi Valeriani, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung (UBB), menyoroti bahwa sejarah ekonomi daerah ini menunjukkan sentimen negatif terhadap harga timah dapat menciptakan gelombang penurunan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Sekitar 80 persen pertumbuhan ekonomi Babel masih terkait dengan konsumsi, terutama dari masyarakat yang terlibat dalam aktivitas penambangan timah.
Dampak fluktuasi harga timah terasa pada pertumbuhan ekonomi Babel, yang mencatat penurunan menjadi 4,01 persen pada triwulan III 2023. Ini mengindikasikan rentannya ekonomi Babel terhadap fluktuasi harga timah.
Dalam menghadapi tantangan ini, diversifikasi ekonomi menjadi solusi kunci. Devi Valeriani menegaskan pentingnya melibatkan sektor pariwisata sebagai alternatif yang menjanjikan. Potensi keindahan alam Babel, seperti pantai eksotis dan keanekaragaman hayati laut, menjadikan sektor pariwisata sebagai pilihan strategis.
Pemerintah daerah perlu proaktif dalam mengarahkan investasi besar ke infrastruktur pariwisata, promosi destinasi, dan penciptaan berbagai kegiatan wisata. Blue Economy, yang berkelanjutan dalam memanfaatkan sumber daya laut, dapat menjadi inovasi untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata.
Meskipun diversifikasi ekonomi menawarkan peluang besar, tantangan terletak pada perubahan paradigma dan transformasi ekonomi yang membutuhkan koordinasi pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Perubahan tidak hanya perlu terjadi pada sektor pariwisata, tetapi juga pada sektor pertanian, perikanan, konstruksi, dan industri pengolahan.
Peningkatan keterampilan tenaga kerja dan program pelatihan menjadi kunci, memungkinkan mereka yang terlibat sebelumnya dalam sektor timah untuk beralih ke sektor-sektor alternatif. Kebijakan yang mendukung dan insentif untuk investasi di sektor-sektor baru juga diperlukan, dengan kerjasama erat antara pemerintah dan sektor swasta.
Dalam menyongsong ekonomi Babel yang berkelanjutan, langkah-langkah ini akan menciptakan fondasi yang kuat untuk pertumbuhan ekonomi yang beragam dan stabil. Kesuksesan langkah-langkah ini akan membawa Bangka Belitung menuju masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan.
Penulis : Ketua PJS Babel dan Penasehat SMSI Babel






















