Fathul Wahid (Foto : Ist)
Jakarta, Deteksi Pos- Dulu, saat duduk di kelas 4 SD, penulis gemar membaca buku silat karya Kho Ping Hoo. Salah satu yang paling diingat berjudul Pendekar Bodoh.
Kini, puluhan tahun berselang, ketertarikan itu beralih pada puisi berjudul Tetaplah Bodoh karya Prof Fathul Wahid.
Puisi tersebut dibacakan secara berantai oleh Ketua Umum SMSI Firdaus bersama pengurus dan anggota SMSI dalam acara tutup tahun, 31 Desember 2025.
Tetaplah Bodoh merupakan puisi kritis terbaru Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.
Fathul dikenal konsisten menulis puisi bertema kritik sosial dan politik. Sebelumnya, ia juga menulis puisi penolakan terhadap RUU TNI berjudul Kami Malu Pak Dirman.
Dalam Tetaplah Bodoh, Fathul menyampaikan sindiran tajam terhadap situasi sosial-politik mutakhir, terutama soal kebijakan negara dalam penanganan bencana banjir di Sumatera.
Puisi ini menggunakan diksi “bodoh” secara ironis. Bukan sebagai ajakan untuk menjadi bodoh, melainkan kritik atas “kepintaran” semu yang kerap dipaksakan kepada publik.
Pesan utamanya jelas: jangan mau dibodohi.
Fathul menyinggung praktik pembodohan sistematis melalui manipulasi informasi, buzzer dan influencer bayaran, hingga sistem pendidikan yang terus berubah tanpa arah jelas.
Lewat puisinya, ia menyerukan keberanian untuk tetap kritis, bersuara, dan melawan ketidakadilan.
Tema besar yang diangkat adalah kritik sosial-politik, dibalut sarkasme terhadap kepintaran palsu yang justru melegitimasi manipulasi fakta, korupsi, dan ketimpangan.
Salah satu sorotan kuat dalam puisi ini adalah kerusakan lingkungan dan eksploitasi hutan.
Fathul menyindir keras deforestasi dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit, termasuk narasi seolah-olah penebangan terjadi secara alami.
Dalam salah satu baitnya, ia menulis tentang “kayu gelondongan yang tumbang sendiri”, sindiran telak terhadap praktik pembalakan liar yang dibungkus pembenaran.
Puisi ini juga menyentil pernyataan pejabat yang menyamakan sawit dengan hutan hanya karena sama-sama berdaun hijau, padahal dampak ekologisnya jauh berbeda.
Kritik berlanjut pada kebijakan alih fungsi hutan yang memicu banjir, namun kerap ditutup-tutupi dengan dalih “takdir”.
Tak heran, puisi ini menjadi viral dan mendapat dukungan luas dari warganet.
Salah satu bait yang paling banyak disorot adalah sindiran terhadap sikap pemerintah yang menolak bantuan asing jika bencana dinyatakan sebagai bencana nasional.
Bait tersebut menyinggung soal martabat bangsa yang diklaim berdiri sendiri, meski rakyatnya tengah dilanda duka.
Puisi Tetaplah Bodoh dibacakan Fathul Wahid pada acara Kenduri dan Doa Ibu-ibu Berisik di Bundaran UGM, Sleman, 22 Desember 2025.
Puisi ini bukan sekadar karya sastra, melainkan pernyataan sikap.
Sebuah pengingat bahwa di negeri ini, yang sering disebut “pintar” justru kerap berseberangan dengan akal sehat.
Dan bahwa, dalam situasi seperti itu, tetap kritis mungkin dianggap “bodoh”—namun justru itulah bentuk kecerdasan yang sesungguhnya.**




















