PIP Ilegal Kembali Membuat Ulah di Perairan Jalan Laut Matras

PIP Ilegal di Jalan Laut Matras Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka (Foto : deteksipos)

Bangka, Deteksi Pos – Aktivitas penambangan timah ilegal jenis Rajuk atau biasa disebut Ponton Isap Produksi (PIP) di kawasan Jalan Laut, Desa Matras, Kabupaten Sungailiat, Bangka, kembali membuat ulah.

Pemilik dan penambang PIP tampaknya tidak kenal takut, beroperasi tanpa izin atau legalitas meskipun telah ada upaya penegakan hukum sebelumnya.

Meskipun lembaga penegak hukum sebelumnya telah berupaya melakukan tindakan keras, para pemilik dan pekerja PIP tampaknya tidak terpengaruh, hampir kebal terhadap dampak hukum, sebagaimana terungkap dalam investigasi media.

Terpantau, para pekerja ini leluasa memporak-porandakan kawasan Jalan Laut tanpa ada yang mampu menghentikannya.

Situasi memprihatinkan ini diperparah dengan lokasi penambangan liar yang sangat dekat dengan fasilitas umum dan pemukiman warga.

Doni Alexander, warga sekitar, mengimbau pemilik PIP dan penambang di kawasan itu segera menghentikan aktivitasnya.

Ia menyayangkan bahwa penambangan timah ilegal, baik Rajuk maupun PIP, kembali terjadi, tampaknya di bawah koordinasi tokoh-tokoh berpengaruh, sehingga aktivitas penambangan ilegal seolah tak tersentuh.

“Kalau dalam waktu dekat tidak berhenti, rencananya saya akan lapor ke Polda. Intinya, saya tidak ingin ada lagi aktivitas penambangan di lokasi itu,” kata Doni saat dihubungi melalui telepon, Jumat (8/9/2021). 2023).

Operasi penambangan liar yang terletak tak jauh dari fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan jalan raya itu diperkirakan sudah berjalan sekitar sebulan.

“Dulu sempat ditutup dan dihentikan, tapi sekarang aktif lagi, artinya melanggar hukum. Kalau nanti saya lapor ke polisi, itu rahasia saya untuk saat ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Jawahir, tokoh masyarakat asal Jalan Laut, menyebutkan warga sekitar lokasi penambangan merasa terganggu dengan aktivitas penambangan tersebut. Selain merusak lingkungan, penambangan ini ilegal.

“Saya berharap para penambang menghentikan aktivitasnya dan kami mendesak aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan cepat sebelum timbul kerusuhan di masyarakat,” tegasnya.

Tedi Joko, Kepala Desa Matras, menjelaskan bahwa mereka tidak mendorong atau membiarkan aktivitas penambangan liar di kawasan Jalan Laut.

Namun pihak desa akan merespon jika ada laporan dari masyarakat, berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat untuk mengambil tindakan yang diperlukan.

“Saya akan berkoordinasi dulu dengan Koordinator Tata Kelola dan atasan seperti Camat untuk menentukan langkah selanjutnya. Hingga saat ini, kami belum mengetahui adanya aktivitas penambangan di sana karena tidak adanya laporan dari masyarakat,” jelas Tedi Joko.

Sementara Ebot yang disebut-sebut sebagai koordinator kegiatan penambangan timah ilegal membantah tudingan tersebut. Ia mengaku menambang, tapi di lahan milik pribadi, bukan di kawasan sungai.

“Saya menambang di kawasan itu, tapi di lahan milik pribadi, dan penambangan di sekitar sungai itu dilakukan oleh masyarakat,” kata Ebot saat dihubungi wartawan, Jumat (8/9). (J.Pasaribu).

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *