Pangkalpinang, Deteksi Pos– Doa lintas agama digelar di Kota Pangkalpinang dengan semangat memperkuat seni, budaya, dan persatuan bangsa. Acara ini mengusung tema “Konsisten Memperkuat Simpul Seni dan Budaya, Merawat Bangsa, Memperkokoh Toleransi, dan Bergandeng Tangan Melawan Radikal Terorisme”, Senin (18/8/2025) malam.
Acara berlangsung khidmat diikuti jajaran pejabat Pemkot Pangkalpinang, aparat keamanan, pegiat seni, serta tokoh lintas agama. Pj Wali Kota Pangkalpinang Muhammad Unu Ibnudin hadir langsung bersama Sekda Mie Go, Kaban Kesbangpol Donal Tampubolon, serta perwakilan Forkopimda.
Dari unsur keamanan, hadir Kasatgaswil Densus 88 AT Polri Kepulauan Bangka Belitung, AKBP Maslikan, bersama Subkor Opsin Binda Kep. Babel Asep Sujana dan perwakilan Polresta Pangkalpinang. Kehadiran mereka menjadi penegasan bahwa melawan radikalisme harus dilakukan bersama-sama.

Dalam sambutannya, AKBP Maslikan menyebut doa lintas agama bukan hanya simbol keberagaman, tapi juga bukti nyata persatuan. “Tanah Bangka Belitung dikenal sebagai bumi serumpun sebalai. Hidup berdampingan dalam perbedaan sudah diwariskan leluhur kita. Itulah kekuatan bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan, melawan paham radikal dan terorisme tak bisa hanya mengandalkan aparat. “Ini harus jadi gerakan bersama. Seni, budaya, dan toleransi adalah benteng terkuat kita. Jika budaya hidup di tengah masyarakat, ideologi kekerasan tidak akan mendapat tempat,” katanya.
Sementara itu, Pj Wali Kota Muhammad Unu Ibnudin menegaskan doa lintas agama juga menjadi bagian dari perayaan HUT ke-80 RI. “Kita ingin Pangkalpinang menjadi kota yang sejuk, damai, dan penuh toleransi. Itu sudah terbukti selama ini,” kata Unu.

Ia juga mengaitkan momentum doa lintas agama dengan Pilkada Ulang yang akan digelar di Pangkalpinang. “Merdeka itu juga berarti merdeka dalam memilih. Mari kita jalani Pilkada dengan jujur, adil, langsung, umum, bebas, dan rahasia agar tetap kondusif,” tegasnya.
Unu pun mengucapkan terima kasih kepada Densus 88 AT Polri yang mendukung penuh kegiatan ini. Menurutnya, doa lintas agama perlu dijaga sebagai tradisi yang mempererat hubungan pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat.
Sebagai bentuk penghargaan, AKBP Maslikan menyerahkan piagam kepada pegiat seni yang dinilai konsisten melestarikan budaya sekaligus mendorong masyarakat peduli pada warisan bangsa. Penghargaan itu menjadi simbol pentingnya seni dalam membendung paham radikal.
Tak hanya doa, acara juga diisi pertunjukan seni baca puisi dan teater oleh Komunitas Rounin Teater. Mereka mengangkat isu bahaya radikalisme dan pentingnya persatuan dalam keberagaman. Pertunjukan ini mendapat sambutan hangat dari para tamu.
Suasana semakin syahdu saat doa lintas agama digelar. Tokoh dari enam agama secara bergantian memimpin doa: mulai dari Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, hingga Konghucu.

H. Abdul Qodir Jaelani memimpin doa untuk umat Islam, disusul Romo Marselinus Gabriel untuk Katolik, Pdt. Inri M. Nikijuluw-Kiroyan untuk Kristen, Made Suarja untuk Hindu, Pandita Vara Dhammo Hengkie untuk Buddha, dan ditutup doa dari Ciau Seng Tjhie Muk Lim untuk Konghucu.
Doa yang dipanjatkan para tokoh agama mengalir dengan pesan yang sama: harapan agar Indonesia selalu damai, rakyat hidup sejahtera, dan terhindar dari perpecahan maupun radikalisme.
Kegiatan lintas iman ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman bukan sekadar slogan. Toleransi yang terjaga rapi justru memperkokoh persatuan bangsa di tengah tantangan ideologi transnasional.
Acara ditutup dengan pesan kebangsaan untuk terus merawat persaudaraan, menjaga budaya, dan memperkuat benteng toleransi demi Indonesia yang damai dan berdaulat. (*)




















