Pangkalpinang, Deteksi Pos— Laut menyimpan potensi besar bagi kehidupan, baik dari sisi ekologi maupun ekonomi. PT Timah Tbk melihat potensi ini sebagai peluang untuk mengembangkan praktik penambangan timah berkelanjutan, sekaligus menjaga keseimbangan alam dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sebagai salah satu produsen timah terbesar dunia, Indonesia memainkan peran strategis di pasar global. PT Timah, yang menambang di wilayah laut, berkomitmen menjalankan operasional yang tidak hanya berorientasi pada hasil tambang, tetapi juga perlindungan ekosistem dan pemberdayaan masyarakat.

Beragam program diluncurkan untuk melindungi lingkungan laut, seperti penenggelaman artificial reef, transplantasi terumbu karang, fish shelter, hingga restocking biota laut seperti cumi dan kepiting. Dari 2016 hingga 2024, tercatat lebih dari 7.000 artificial reef telah ditenggelamkan di wilayah Bangka Belitung, serta 40.000 lebih cumi dilepaskan ke habitat alaminya.
Selain itu, reklamasi laut di Kepulauan Riau juga menjadi prioritas. Penanaman mangrove, pembangunan penahan abrasi sepanjang ribuan meter, hingga restocking kepiting merupakan bentuk nyata komitmen lingkungan PT Timah.
“Sinergi menjaga laut bukan hanya soal perlindungan, tapi juga tentang keberlanjutan ekonomi masyarakat,” ungkap Anggi Siahaan, Department Head Corporate Communication PT Timah. Ia menjelaskan, nelayan lokal dilibatkan dalam seluruh proses, dari pembuatan artificial reef hingga pemanfaatan fishing ground, sehingga mereka memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.
Inisiatif ini pun turut mendukung sektor wisata bahari, seperti coral garden di Pulau Putri, yang mulai menarik perhatian wisatawan. Ke depan, PT Timah berharap sinergi antara industri, lingkungan, dan masyarakat ini dapat menjadi model penambangan berkelanjutan nasional.




















