PangkalPinang, Deteksi Pos — PT Timah (Persero) Tbk menambah satu lagi legitimasi dalam praktik tata kelola perusahaan. BUMN tambang itu mengantongi sertifikasi ISO 30301:2019, standar internasional untuk sistem manajemen arsip—sebuah aspek yang kerap luput dari sorotan, namun krusial dalam akuntabilitas korporasi.
Sertifikasi ini bukan sekadar simbol administratif. Di baliknya, perusahaan mengklaim telah merombak cara mengelola dokumen: dari sistem konvensional menuju digitalisasi terintegrasi. Seluruh arsip didorong terdokumentasi lebih rapi, mudah ditelusuri, dan memiliki tingkat keamanan yang terukur.
Langkah digitalisasi itu disebut sebagai bagian dari agenda transformasi perusahaan. Selain memangkas inefisiensi, sistem ini juga membuka akses yang lebih cepat terhadap data—faktor penting dalam pengambilan keputusan dan pengawasan internal.
Di saat yang sama, PT Timah menyusun ulang kebijakan dan prosedur kearsipan agar selaras dengan standar ISO 30301:2019. Perusahaan juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan sosialisasi, sebuah tahapan yang kerap menjadi titik lemah dalam implementasi standar manajemen.
Proses tersebut diuji melalui audit eksternal oleh lembaga sertifikasi independen TUV SUD. Hasilnya, PT Timah dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan dan resmi menyandang sertifikasi tersebut.
Direktur Sumber Daya Manusia PT Timah, Ratih Mayasari, menyebut capaian ini sebagai pijakan untuk memperkuat tata kelola yang lebih tertib dan akuntabel. “Sertifikasi ini menjadi komitmen nyata perusahaan dalam memastikan pengelolaan arsip berjalan profesional dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sistem manajemen arsip tak lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan instrumen strategis untuk menopang transparansi dan kepercayaan pemangku kepentingan.
Sebelumnya, unit pengolahan arsip PT Timah juga meraih penilaian tertinggi dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dengan predikat AA “Sangat Memuaskan” di lingkungan BUMN. Capaian itu memperkuat klaim perusahaan bahwa pembenahan kearsipan tengah menjadi prioritas.
Namun, tantangan sesungguhnya bukan pada perolehan sertifikat, melainkan konsistensi implementasi. PT Timah menyatakan akan menjaga keberlanjutan sistem melalui peningkatan kesadaran internal dan inovasi berkelanjutan—dua hal yang kerap menjadi penentu apakah standar hanya berhenti di atas kertas atau benar-benar hidup dalam praktik.




















