UMKM Belitung Timur, Ekonomi Bergerak Saat Timah Bergairah

DeteksiPos, Belitung Timur — Aktivitas pertambangan dan perdagangan timah masih menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di Kabupaten Belitung Timur. Ketika aktivitas timah bergairah, denyut perekonomian di tingkat masyarakat ikut terasa. Sebaliknya, ketika aktivitas timah melemah, pelaku UMKM, pedagang pasar, warung kopi hingga sektor jasa turut merasakan dampaknya.

Kondisi tersebut disampaikan Endang Purwono, pelaku UMKM asal Kampung Baru yang juga aktif dalam pengembangan komunitas ekonomi kreatif di lingkungannya. Ia menyebut, dalam beberapa hari terakhir aktivitas ekonomi masyarakat yang diamatinya masih cenderung lesu.

“Kalau saya lihat dalam beberapa hari ini situasi masih sama saja. Aktivitas di kawasan kami masih biasa-biasa saja. Kondisi ekonomi memang jauh, tidak bergerak,” kata Endang, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut terlihat dari aktivitas pasar dan warung kopi yang belum menunjukkan geliat berarti. Sejumlah pemilik warung kopi yang ditemuinya bahkan mengaku mengalami penurunan omzet cukup signifikan.

“Dari pasar, kegiatan aktivitas di pasar sepi. Di warung-warung kopi juga sepi. Saya sempat ngobrol dengan teman yang punya warung kopi, omzetnya jauh turun. Malam hari yang seharusnya orang santai dan ngopi, sekarang sepi,” ujarnya.

Sebagai pelaku UMKM, Endang menilai kondisi tersebut memperlihatkan masih kuatnya keterkaitan ekonomi masyarakat Belitung Timur dengan sektor pertimahan. Perputaran uang dari aktivitas timah, kata dia, kemudian mengalir ke berbagai sektor usaha masyarakat.

Saat masyarakat memperoleh penghasilan lebih baik, uang tersebut kembali berputar melalui belanja kebutuhan sehari-hari, makan di warung, menikmati kopi, membeli produk UMKM hingga melakukan aktivitas konsumsi lainnya.

“Memang terasa. Kalau timahnya harganya lebih bagus, masyarakat punya uang lebih, pasar pasti ramai. Mereka juga punya uang lebih untuk jalan-jalan atau belanja produk UMKM,” katanya.

Ia bahkan menilai pergerakan ekonomi akibat aktivitas timah tidak hanya terjadi di wilayah pertambangan. Ketika daya beli masyarakat meningkat, aktivitas belanja dan perjalanan ke daerah lain juga ikut tumbuh.

“Kalau timah goyang, kelihatan benar. Belitung Timur memang masih belum bisa move on dari timah,” ujarnya.

Karena itu, Endang berharap persoalan pertambangan timah masyarakat dapat segera menemukan solusi yang memberikan kepastian. Menurutnya, masyarakat membutuhkan kepastian hukum sekaligus ruang usaha yang tetap berada dalam koridor aturan.

Ia menilai persoalan harga dan akses pemasaran menjadi dua hal penting yang perlu mendapat perhatian. Jumlah mitra pembelian juga dinilai perlu diperbanyak agar masyarakat tidak kesulitan ketika hendak menjual hasil timah.

“Yang pertama masalah harga. Yang kedua perbanyak mitranya agar masyarakat tidak merasa kebingungan harus menjual ke mana. Kalau hanya belasan mitra, saya rasa belum cukup untuk meng-cover mereka. Sampai harus antre berjam-jam,” ungkapnya.

Selain persoalan pemasaran, Endang mendorong agar sosialisasi mengenai aturan pertambangan dan mekanisme perdagangan timah dilakukan secara lebih intensif kepada masyarakat.

Ia juga berharap PT TIMAH terus membuka komunikasi secara langsung dengan masyarakat sehingga berbagai kebijakan maupun aturan dapat dipahami dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Harus ada kepastian hukum. Masyarakat yang menambang merasa dilindungi dan dirangkul lebih dekat, disosialisasikan. PT TIMAH jangan takut turun ke masyarakat. Kalau merasa benar, jangan takut. Turun dan lebih dekatlah dengan masyarakat,” tegasnya.

Menurut Endang, komunikasi antara masyarakat, pemerintah dan perusahaan menjadi bagian penting dalam mencari jalan keluar atas persoalan ekonomi yang berkaitan dengan aktivitas timah. Dialog secara langsung dinilai dapat menjadi jembatan untuk menyamakan pemahaman dan mencari solusi yang tidak merugikan masyarakat.

Di tengah derasnya arus informasi, Endang juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial. Terlebih, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI membuat informasi palsu semakin mudah diproduksi dan disebarkan.

“Sekarang zamannya AI. Kita harus bisa melihat mana berita yang hoaks dan mana yang benar-benar nyata. Jangan semuanya ditelan mentah-mentah. Jangan sampai informasi yang kita terima justru merugikan diri sendiri, orang lain, dan keluarga,” pesannya.

Bagi Endang, geliat ekonomi masyarakat tidak hanya bergantung pada satu sektor. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa aktivitas timah masih memiliki pengaruh kuat terhadap daya beli dan perputaran ekonomi lokal. (yn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *