194 Pendaftar Berebut 36 Kursi Beasiswa PT Timah di SMAN 1 Pemali

PangkalPinang, Deteksi Pos — Pendaftaran Program Kelas Beasiswa PT Timah (Persero) Tbk di SMAN 1 Pemali resmi ditutup pada 10 April 2026. Dalam rentang lebih dari sebulan, sejak dibuka 2 Maret, sebanyak 194 pelajar tercatat mendaftar—bersaing untuk 36 kursi yang tersedia.

Program yang telah berjalan sejak 2000 ini kembali menyedot minat pelajar, tak hanya dari Bangka Belitung, tetapi juga dari Riau dan Kepulauan Riau. Namun, dominasi pendaftar tetap datang dari wilayah lingkar tambang.

Data pendaftar menunjukkan konsentrasi tertinggi berasal dari Bangka Barat (45 orang) dan Bangka (43 orang). Disusul Bangka Tengah (29), Bangka Selatan (25), Pangkalpinang (24), Belitung Timur (13), Karimun (6), Meranti (6), serta Belitung (3).

Seleksi berikutnya dipastikan tidak longgar. Peserta akan melewati tahapan berlapis: administrasi, survei lapangan, tes potensi akademik, psikotes, wawancara, hingga tes kesehatan. Seluruh proses dilakukan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan pihak sekolah, dengan klaim pelaksanaan yang transparan.

Bagi yang lolos, skema pendidikan yang ditawarkan tergolong penuh: sistem asrama (boarding school) di SMAN 1 Pemali, dengan seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan hidup ditanggung perusahaan.

Skema ini menempatkan program beasiswa PT Timah bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan instrumen intervensi sosial di wilayah operasional—menekan angka putus sekolah sekaligus menyiapkan sumber daya manusia di sekitar tambang.

“Antusiasme pelajar menunjukkan semangat generasi muda untuk terus belajar dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Department Head Corporate Communication PT Timah, Anggi Siahaan.

Ia memastikan proses seleksi tidak dipungut biaya dan meminta peserta memantau perkembangan melalui kanal resmi perusahaan.

Namun, seperti program beasiswa korporasi lainnya, ujian sesungguhnya terletak pada konsistensi—apakah program ini mampu menjangkau mereka yang paling membutuhkan, atau sekadar menjadi kompetisi bagi yang sejak awal sudah unggul. Di titik itu, transparansi seleksi menjadi kunci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *